Profil

Dodi Zulkifli Jatuh Bangun Kembangkan Bisnis Percetakan

Dodi Zulkifli

Foto: Laili Damayanti

Berawal dari perkenalan dengan dunia percetakan saat mengelola bulletin di SMA, Dodi Zulkifli  (28) memulai bisnis percetakan Derajat Celcius di Semarang. Kini, Dodi sudah memiliki bisnis percetakan dan waralabanya dengan 7 outlet yang tersebar di Semarang dan Kudus. Apa kiat Dodi hingga meraih sukses?

S ejak kapan terpikir ingin punya usaha percetakan?

 Bisa dibilang, bisnis ini hasil dari trauma masa kecil. Waktu kecil, saya lihat paman bekerja dari pagi hingga sore dan kelelahan, kurang punya waktu bersama keluarga. Berbeda dengan ayah yang berwiraswasta tapi waktunya lebih fleksibel buat keluarga. Jadi, sejak saat itu saya berangan-angan, jika sudah besar nanti ingin seperti ayah, jadi wiraswastawan.

Lalu ketika SMA, saya sempat aktif mengelola buletin religius, mulai dari menulis artikel sampai mencetaknya sendiri. Berhubung biaya fotokopi mahal, saya cari alternatif mencetak yang lebih murah. Kebetulan ada teman yang memperkenalkan saya pada proses pencetakan buletin di sebuah percetakan.

Lama-kelamaan, saya jadi tahu kalau cetak mencetak ini juga bisa jadi ladang usaha. Setamat SMA, saya mulai serius memantapkan keinginan dalam berbisnis. Meski waktu itu saya sempat kuliah di Jurusan Sistim Informasi, Universitas Dian Nusantara, Semarang, saya mulai berbisnis percetakan kecil-kecilan.

Bagaimana mengawalinya? Berapa modalnya ketika itu?

Bisa dikatakan, bisnis ini saya mulai tanpa modal. Cuma modal tekad saja. Intinya, mau memulai. Jadi, awalnya saya ambil pesanan dari siapapun dan bentuk apapun. Mulai dari kartu nama, brosur, dan lainnya.

Berhubung masih belum punya jaringan luas, saya coba dari lingkaran yang paling dekat dulu, yaitu keluarga. Saya minta ke mereka, kalau mau buat undangan, saya sanggup mengerjakan. Selama itu, sempat juga saya salah manajemen dan akhirnya harus ‘nombok ’ (menutup kerugian, Red .). Tapi, saya jadi belajar soal bertanggung jawab.

Dodi dan Bill Gates

Terinspirasi kesuksesan tokoh dunia Bill Gates, Dodi berhasil mengembangkan bisnis usaha percetakan Derajat Celcius miliknya. (Foto: Dok Pri)

Apa kiatnya hingga bisnis ini berkembang seperti sekarang?

Terus terang, saya terinspirasi dari banyak pengusaha lain dalam mengembangkan bisnis ini. Salah satunya, Bill Gates (pemilik perusahaan perangkat lunak dari Amerika Serikat, Red .). Saya melihat seorang Bill Gates bukan hanya menjual program Windows, tapi yang membuat dia jauh lebih kaya adalah dia menjual bisnis dari Microsoft.

Jadi kalau ingin bisnis makin besar, jangan cuma mencari uangnya saja, tapi juga harus ada niat mengembangkan bisnis itu sendiri. Itulah yang mendorong saya berpikir membuat waralaba dari bisnis percetakan Derajat Celcius pada 2008. Saya melihat, bisnis ini potensial mendatangkan untung besar. Buktinya, memang banyak yang berminat dan mengajukan proposal untuk membeli waralaba bisnis saya.

Adakah pengalaman jatuh-bangun dalam berbisnis yang menjadikan Anda makin kuat?

Oh ya, saya ingat pengalaman pahit yang membuat saya banyak belajar soal bisnis. Waktu itu, sempat saya dapat order besar membuat satu juta stiker dari salah seorang kandidat caleg sebuah partai di wilayah Jateng, pada Pemilu tahun 2004.

Saya hitung-hitung, memang margin -nya tipis sekali, tapi sudah saya down payment ke supplier . Tak berapa lama, datang supplier lain menawarkan harga lebih murah. Saya hitung, saya bisa untung besar meskipun harus merelakan uang muka hangus. Saya pun pindah order ke supplier ini. Ternyata, setelah selesai dicetak, barangnya melengkung karena bahannya lebih murah dan kualitasnya kurang baik. Selain itu, cetakannya banyak yang meleset, termasuk warna yang kurang sesuai pesanan. Saya jadi rugi karena akhirnya hanya dibayar 40 persen dari nilai kontrak.

 Meski merugi dan sempat menumpuk hutang, saya tak mau minta uang pada orangtua. Saya tetap kerjakan sendiri, apapun yang bisa saya kerjakan. Perlahan-lahan, bisnis ini bisa saya bangun kembali. Dari pelajaran ini saya jadi belajar banyak hal. Saya belajar untuk tidak serakah atau terlalu cepat mengambil keputusan. Saya juga perlu bertanya pada yang lebih ahli sebelum mengambil keputusan.

Jadi saya pikir “Ya sudah, anggap saja ini biaya untuk saya belajar”. Saya sadar, tanpa kejadian pahit itu, saya tak akan jadi seperti sekarang. Dan, tanpa kejadian itu saya mungkin tidak tahu ada percetakan lain yang lebih besar. Selain pelajaran dalam berbisnis, pengalaman ini juga membuat saya bisa berkembang di bisnis ini.

Bagaimana cara mengelola bisnis dengan banyak outlet  dan waralaba?

 Mempertahankan dan mengembangkan bisnis ini memang sangat membutuhkan komitmen. Tapi intinya, saya selalu ingin berkembang dan mengembangkan bisnis ini. Bahkan tak jarang saya mencari coach (konsultan) untuk pengembangan manajemen dan bisnis. Saya mencari coach hingga ke Jakarta. Saya tak merasa rugi mengeluarkan puluhan juta untuk itu, karena keuntungannya sangat saya rasakan. Bisnis saya jadi lebih baik. Hasilnya, saya dapat wawasan lebih luas mengenai konsep bisnis, termasuk memberi saya ide membuat waralaba.

Selain keuntungan dalam pengembangan konsep, coaching ini juga terkadang mendatangkan order, baik dari peserta maupun trainer . Sejauh ini, order besar saya misalnya dari Tung Desem Waringin yang memesan pembuatan buku The Way to Dahsyat Life . Lalu Wisata Hati (milik Ustaz Yusuf Mansyur), yang memesan majalah rutin bulanan, buku doa, brosur, hingga spanduk, juga biro perjalanan haji Fatimah Zahra yang memberi banyak pesanan berupa brosur, buku doa, buku manasik, buku panduan umroh, ID card  dan lainnya. Nilai per kontraknya. bisa mencapai Rp 1,2 M.

 Khusus memelihara pelayanan, saya usahakan setiap bulan melakukan kunjungan ke pelanggan. Saya juga menetapkan target pencapaian untuk masing-masing outlet . Tapi khusus pembeli waralaba, saya tidak menetapkan target.

Laili Damayanti

Views : 1890


blog comments powered by Disqus

Artikel Lainnya

Back to top