Profil

Populerkan Superhero Indonesia

nawa rie dan nidi

Foto: Rini/NOVA

Nawa Ri Eda (35) dan Nidi Vidiana (22) adalah otak di balik JToku Indonesia Film. Sejumlah film pendek karya mereka seperti Gatotkaca, Pocongman, dan Garudaman, bisa bebas disaksikan lewat situs Youtube.

Sukses lewat Pocongman, Gatotkaca , Garudaman , kini menggarap film apa?

Nawa : Saat ini kami sedang bikin proyek lanjutan Gatotkaca Superhero Indonesia  sebanyak 13 episode. Karya ini terlahir dari rasa keprihatinan saya pada adik-adik kita yang lupa bahwa kita punya tokoh superhero sendiri. Mungkin hal ini terjadi akibat serbuan film-film superhero  dari negara-negara lain seperti Jepang dan Amerika Serikat. Sementara Indonesia kurang ada greget dalam menghidupkan kembali tokoh superhero lokal.

Karena itu JToku Indonesia berusaha membangkitkan kembali superhero  lokal Indonesia agar jadi idola bagi generasi muda ke depannya. Kita membutuhkan film yang ringan dan menghibur. Intinya, superhero Indonesia mengajarkan kebenaran dan kebaikan melawan kejahatan, kesatuan dan persatuan, kebersamaan. Mengajarkan nilai luhur budaya kita.

Kenapa memilih Gatotkaca?

Nawa : Jika kita tanya orang awam Indonesia, rata-rata pasti menyebut Gatotkaca sebagai tokoh heroik. Ia pemilik otot kawat balung wesi (tulang besi). Tokoh ini bersama Hanoman jadi idola kebanyakan orang Indonesia, khususnya pencinta kisah wayang. Padahal jika dirunut ke belakang, mereka adalah tokoh dari cerita asal India. Lalu masuk jadi budaya Indonesia lewat cerita pewayangan. Gatotkaca sering digambarkan dalam sejumlah cerita, bertempur dengan Superman atau Batman. Jadi saya pikir, orang Indonesia ingin punya superhero sendiri. Hanya saja belum ada yang bisa menampilkannya.

Sosok Gatotkaca digambarkan seperti apa?

Nawa : Saya tak ingin merusak gambaran Gatotkaca yang sudah tertanam di benak orang selama ini. Maka karakternya saya gambarkan seperti tokoh superhero yang dikagumi adik-adik saat ini. Seperti Ultraman, Ksatria Baja Hitam, Power Ranger. Bila dibikin sama dengan tokoh pewayangan, lalu apa bedanya dengan yang lama? Istilahnya, saya mengisi kekosongan sosok superhero Indonesia lalu menjadikannya seperti Power Ranger dan mengalkulturasikannya dengan karakter cerita superhero dari Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia.

Ceritanya saya bikin melanjutkan fiksi ilmiah dari tradisi yang sudah ada. Misalnya Gatotkaca di zaman dulu sudah tewas, tapi bajunya masih sakti. Bajunya bertapa di Kawah Candradimuka, menunggu generasi baru yang akan menggunakannya untuk membela kebaikan dan kebenaran. Masih ada benang merahnya dengan Gatotkaca di masa lalu. Mungkin nantinya akan saya hidupkan superhero  lain seperti Bima. Karena musuh-musuh superhero  ini saya ambil dari sisa-sisa Kurawa yang selama ribuan tahun ternyata rajin berlatih perang. Seperti Gardapati, Durgumpa. Merekalah yang akan jadi musuh para superhero lokal ini.

Apa tujuan membuat film superhero Indonesia ini?

Nawa : Sekadar memberi gambaran ke masyarakat, Indonesia juga mampu, lho, bikin film yang tak kalah seperti Power Ranger atau karakter monster dari luar negeri. Untuk monsternya, terus terang saya terinspirasi dari monster Jepang, tapi lebih ke warna-warna yang mencolok agar disukai anak-anak.

Pun demikian, saya masih memadukannya dengan kearifan lokal, mengambil karakter para Kurawa. Misalnya Cakil yang mulut bagian bawahnya menonjol ke depan dan suka bikin onar. Bedanya, Cakil zaman dulu kerempeng, di film ini saya buat berotot agar saat melawan Gatotkaca akan terlihat perjuangannya. Jika tubuh Cakil dibuat biasa saja, tantangan si superhero akan jadi terlalu enteng. Sementara Indonesia saat ini butuh sosok superhero yang siap berjuang.

superhero

Beginilah suasana saat menjalankan proses produksi tim JToku dalam menggarap film superhero lokal Indonesia. (Foto: Rini / NOVA)

Suka nonton film superhero ?

Nawa : Pada umumnya tiap orang punya idola. Nah, kebetulan semasa kecil saya ingin jadi pesawat, ha ha ha. Dalam benak saya, pesawat hebat bisa terbang. Eh, ternyata ada Superman dari planet lain yang juga bisa terbang. Obsesi saya memang ingin bisa terbang dan itu tak bisa hilang kendati sudah SMA. Kebetulan saya suka mendesain, jadi sampai kuliah saya masih gemar menggambar untuk menumpahkan semua obsesi saya.

Bapak sebenarnya ingin saya kuliah arsitek. Nonton film fiksi superhero saja tak boleh. Jadi saya nontonnya di rumah teman. Saya lulusan jurusan dekomvis (desain kominikasi visual) ISI Jogja tahun 2005. Darah seni saya mengalir dari Ibu yang penari topeng kelana di Salatiga. Tokoh superhero idola saya Superman dan Gaban. Oh ya, saya anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak Bapak terserang stroke, sayalah tulang punggung keluarga. Saat tahu saya berkecimpung di dunia desain dan film, Bapak bilang, lanjutkan!

Apa lagi karya kreatif JToku selain film pendek?

Nawa : Kami jualan kostum-kostum untuk pertunjukan, hobi, koleksi, atau dijual untuk memenuhi permintaan komunitas. Sejauh ini peminat kostum biasanya dari kelompok teater atau production house (PH). Kostum-kostum ini juga sudah diekspor. Ada juga desain karakter atau bikin event  lain. Misalnya bikin rumah hantu tapi yang kreatif. Juga event  seperti memberi edukasi bikin dinosaurus atau mengajak anak-anak mengenal binatang purba. Itu semua kami kerjakan sejak 2005. Tapi nama JToku baru dikenal tahun 2007, mapannya baru tahun 2012 ini.

Apa kendala berbisnis di bidang ini?

 Nawa : Khusus untuk penciptaan karakter, orang masih memandang ini hanya untuk anak-anak. Padahal tidak juga. Yang bikin dan pemesannya juga banyak orang dewasa, wong untuk keperluan film dan komunitas. Nonton film superhero  masih dipandang seperti halnya komik, orangtua masih melarang anak-anak membacanya. Padahal nonton film superhero bisa melatih imajinasi anak. Tinggal diatur saja waktunya. Kalau belajar terus tapi tak punya imajinasi, sama juga bohong.

Kendala lain, soal pendanaan. Maklum, timnya kebanyakan masih kuliah. Kami juga masih tergolong baru di bidang ini. Susahnya lagi, ketika harus menembus dunia perfilman yang sudah mapan di Jakarta. Kami jelas ingin menasional, tapi birokrasinya susah ditembus oleh kami orang daerah. Jika harus tayang stripping , kami takut kualitas menurun. Untuk teve, kan, sangat tergantung rating . Kalau yang sedang tinggi komedi, lalu kami disuruh bikin komedi, kan, susah.

Oh ya, kenapa dinamakan JToku Indonesia?

Nawa : Kami mencari inspirasinya dari Jepang. Sebab superhero Amerika, kami melihatnya, gampang ditiru. Wajah superhero -nya bisa saja ditutup, diganti orang. Syutingnya kelihatannya juga murah. Akhirnya kami ambil nama Jogja Tokusatsu atau disingkat jadi JToku. Toku dalam Bahasa Jepang artinya spesial efek. Kepanjangannya tokusatsu, artinya gambar bergerak yang disertai spesial efek. Ditambahkan kata Indonesia, biar ketahuan kami dari Indonesia. Bukan asal Jepang.

Tim JToku

Anggota tim JToku pada umumnya masih tercatat sebagai mahasiswa, namun mereka memiliki komitmen tinggi dan selalu serius saat membuat film. (Foto: Rini / NOVA)

Ke depannya JToku diproyeksikan seperti apa?

Nawa : Saya ingin fokus membuat karakter superhero Indonesia yang bisa menjadi contoh kaum muda. JToku diharapkan bisa menjadi semacam sekolah untuk spesial efek di Indonesia. Padahal alat-alat yang kami pakai lokal semua, lho.

(Tahun 2008 Nidia Noviana atau Nidi Viana mulai bergabung saat JToku tengah memproduksi Pocongman. Mahasiswi program studi elektronika dan instrumentasi ELINS FMIPA UGM inilah yang menciptakan alat electro-bottle. Di tangannya pula manajemen komunitas JToku Indonesia ditatanya menjadi profesional seperti saat ini. Nidi pun turut menyuntikkan modal dana dan peralatan ke JToku, sehingga ia termasuk owner bersama Nawa. Menurut Nidi, omzet JToku kini sudah bernilai ratusan juta rupiah. Diperolehnya dari hasil berjualan kostum, baik di dalam maupun ekspor ke luar negeri. Sementara Gatotkaca Superhero Indonesia sebanyak 13 episode sudah dikontrak B- Channel. Atas semua kerja keras Nidi, gadis manis ini pun diganjar sebagai pemenang favorit kategori Wirausaha Muda Mandiri 2012 ).

Dari mana dana memproduksi 13 episode seri Gatotkaca?

Nidi : Kami pernah bikin pilot project  Gatotkaca  tiga episode. Dari sana kami bisa mengumpulkan demografi dan statistik. Jadi ketahuan yang nonton sudah ratusan ribu orang. Per harinya bertambah seribu sampai dua ribu orang. Nah, dari situ kami dapat pemasukan dari brand  yang butuh splash . Ada juga web channel yang minta karya kami terpajang di tempat mereka. Itu juga kami kenakan biaya. Dari situlah kami punya biaya pengganti produksi. Yang paling banyak ditonton Gatotkaca  dan Pocongman .

Siapa penulis skenario semua film?

Nawa : Ide gilanya dari saya. Tapi rata-rata sekarang tim JToku sudah kreator semua. Nidi sudah bisa bikin Garudaman dan Cempaka . Jadi satu personel JToku sejatinya bernilai sama dengan 10 orang. Misalnya tukang kostum, pada saat produksi dia bisa jadi kameraman atau lainnya.

Nidi : Kami sengaja melatih teman-teman yang semula hanya menguasai satu atau dua bidang saja untuk bisa jadi personel yang multitalenta.

Sudah ada pihak ketiga yang mengajak kerjasama?

Nidi : Sudah. Apalagi sejak tahun lalu kami menang kompetisi di Wiausaha Muda Mandiri (WMM). Kini makin banyak yang melirik dan mengakui karya kami. Salah satunya datang pesanan dari sejumlah PH. Sampai saat ini permintaannya masih sebatas kostum. Dalam sebulan, bisa lebih dari 20 pesanan kostum full body . Tapi ada yang kami tunda pengerjaannya. Jadi per bulan hanya bisa bikin tujuh kostum, karena kami masih terkendala pada jumlah orang yang mengerjakannya.

Semua pengerjaan kostum di bengkel kami, Jl. Batikan. Jogjakarta. Lamanya pengerjaan tergantung dari jenis kostumnya, rata-rata seminggu sampai sebulan. Untuk kostum animatronik bisa sampai tiga bulan. Misalnya dinosaurus yang tingginya 2,5 m, panjang 4 m, lalu ekornya bisa bergerak sebab ada sistem di dalamnya. Kami juga menyewakan kostum. Tapi kadang tak ada stok karena penyewa biasanya membelinya. Harganya mulai Rp 2,5 juta-an. Kostum Ksatria Baja Hitam dan Iron Man paling laris.

 Rini Sulistyati

Views : 1865


blog comments powered by Disqus

Artikel Lainnya

Back to top